SYARIAH ENTERPRISE THEORY DAN PERBEDAANYA DENGAN ENTITY THEORY

Shari’ah Enterprise Theory (SET) Tuhan sebagai Pusat Dari beberapa diskusi telah diketahui bahwa ET lebih sarat dengan nilai-nilai kapitalisme, sehingga akuntansi syari’ah lebih cenderung pada enterprise theory (Baydoun and Willett 1994; Harahap 1997; Triyuwono 2000a). Namun demikian, enterpise theory perlu dikembangkan lagi agar memiliki bentuk yang lebih dekat lagi dengan syari’ah. Pengembangan dilakukan sedemikian rupa, hingga akhirnya diperoleh bentuk teori dikenal dengan istilah Shari’ah Enterprise Theory (SET) (Triyuwono 2006a, 350-56 ).

SET yang dikembangkan berdasarkan pada metafora zakat pada dasarnya memiliki karakter keseimbangan. Secara umum, nilai keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan antara nilai-nilai maskulin dan nilai-nilai feminin (Hines 1992; Triyuwono 2000b, ix-xxxvi; Triyuwono 2006a). SET menyeimbangkan nilai egoistik (maskulin) dengan nilai altruistik (feminin), nilai materi (maskulin) dengan nilai spiritual (feminin), dan seterusnya. Dalam syari’ah Islam, bentuk keseimbangan tersebut secara konkrit diwujudkan dalam salah satu bentuk ibadah, yaitu zakat. Zakat (yang kemudian dimetaforakan menjadi “metafora zakat”) secara implisit mengandung nilai egoistik-altruistik, materi-spiritual, dan individu-jama’ah.
Konsekuensi dari nilai keseimbangan ini menyebabkan SET tidak hanya peduli pada kepentingan individu (dalam hal ini pemegang saham), tetapi juga pihak-pihak lainnya. Oleh karena itu, SET memiliki kepedulian yang besar pada stakeholders yang luas. Menurut SET, stakeholders meliputi Tuhan, manusia, dan alam. Tuhan merupakan pihak paling tinggi dan menjadi satu-satunya tujuan hidup manusia. Dengan menempatkan Tuhan sebagai stakeholder tertinggi, maka tali penghubung agar akuntansi syari’ah tetap bertujuan pada “membangkitkan kesadaran keTuhanan” para penggunanya tetap terjamin. Konsekuensi menetapkan Tuhan sebagai stakeholder tertinggi adalah digunakannya sunnatuLlah sebagai basis bagi konstruksi akuntansi syari’ah. Intinya adalah bahwa dengan sunnatuLlah ini, akuntansi syari’ah hanya dibangun berdasarkan pada tata-aturan atau hukum-hukum Tuhan.

Stakeholder kedua dari SET adalah manusia. Di sini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu direct-stakeholders dan indirect–stakeholders. Direct-stakeholders adalah pihak-pihak yang secara langsung memberikan kontribusi pada perusahaan, baik dalam bentuk kontribusi keuangan (financial contribution) maupun non-keuangan (non-financial contribution). Karena mereka telah memberikan kontribusi kepada perusahaan, maka mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kesejahteraan dari perusahaan. Sementara, yang dimaksud dengan indirect-stakeholders adalah pihak-pihak yang sama sekali tidak memberikan kontribusi kepada perusahaan (baik secara keuangan maupun non-keuangan), tetapi secara syari’ah mereka adalah pihak yang memiliki hak untuk mendapatkan kesejahteraan dari perusahaan.

Golongan stakeholder terakhir dari SET adalah alam. Alam adalah pihak yang memberikan kontribusi bagi mati-hidupnya perusahaan sebagaimana pihak Tuhan dan manusia. Perusahaan eksis secara fisik karena didirikan di atas bumi, menggunakan energi yang tersebar di alam, memproduksi dengan menggunakan bahan baku dari alam, memberikan jasa kepada pihak lain dengan menggunakan energi yang tersedia di alam, dan lain-lainnya. Namun demikian, alam tidak menghendaki distribusi kesejahteraan dari perusahaan dalam bentuk uang sebagaimana yang diinginkan manusia. Wujud distribusi kesejahteraan berupa kepedulian perusahaan terhadap kelestarian alam, pencegahan pencemaran, dan lain-lainnya.

Dari penjelasan singkat di atas secara implisit dapat kita pahami bahwa SET tidak mendudukkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu sebagaimana dipahami oleh antroposentrisme. Tapi sebaliknya, SET menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala sesuatu. Tuhan menjadi pusat tempat kembalinya manusia dan alam semesta. Oleh karena itu, manusia di sini hanya sebagai wakilNya (khalituLlah fil ardh) yang memiliki konsekuensi patuh terhadap semua hukum-hukum Tuhan. Kepatuhan manusia (dan alam) semata-mata dalam rangka kembali kepada Tuhan dengan jiwa yang tenang. Proses kembali ke Tuhan memerlukan proses penyatuan diri dengan sesama manusia dan alam sekaligus dengan hukum-hukum yang melekat di dalamnya.
Tentu saja konsep ini sangat berbeda dengan ET yang menempatkan manusia – dalam hal ini stockholders – sebagai pusat. Dalam konteks ini kesejahteraan hanya semata-mata dikonsentrasikan pada stockholders (Kam 1990, 315). SET juga berbeda dengan Enterprise Theory yang meskipun stakeholdersnya lebih luas dibanding dengan ET, tetapi stakeholders di sini tetap dalam pengertian manusia sebagai pusat.
Dengan memahami SET secara utuh, maka tentu saja warna dan bentuk teori akuntansi syari’ah akan sangat berbeda dengan akuntansi modern. Dalam konteks ini, konsep kesejahteraan akan berbeda dengan ET dan Enterprise Theory. ET menekankan accounting income for stockholders yang dalam bentuk sederhana dapat dinyatakan sebagai profit for stockholders. Konsep kesejahteraan juga akan berbeda dengan nilai-tambah (value-added) dari Enterprise Theory. Di mana letak perbedaannya? Inilah yang menjadi kepedulian dari studi ini. Studi ini mencoba untuk merumuskan konsep nilai-tambah dengan menggunakan nilai-nilai syari’ah.
Nilai-tambah Syari’ah (Shari’ah Value-added)

TEORI ENTITAS

Teori entitas menekankan pada konsep kepengelolaan “stewardship” dan pertanggungjawaban “accountability” dimana bisnis peduli dengan tingkat keberlangsungan usaha dan informasi keuangan usaha bagi pemilik ekuitas dalam rangka pemenuhan kebutuhan legal dan menjaga suatu hubungan baik dengan pemegang ekuitas tersebut dengan harapan mudah memperoleh dana di masa depan (Paton, 1962). Teori entitas dapat juga menjelaskan pengungkapan informasi yang ada di internet sehubungan dengan tanggungjawab dan akuntabilitas perusahaan ke pemegang saham, dan dalam rangka upaya untuk mencapai kebutuhan informasi pengguna, dimana kerangka peraturan yang ada telah mendorong perusahaan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan pengguna secara simultan, dan internet menawatkan diri sebagai alat menyajikan informasi kepada pengguna dalam areal yang lebih luas dalam waktu yang sama (Khan, 2006).

Berdasarkan Lymer et al., (1999), terdapat berbagai badan yang sangat aktif memperhatikan penyebaran informasi melalui media IFR, seperti IMF, IASB, International Federation of Accountants (IFAD), Web Trust, COB (Francis), FASB, dan lainnya. Badan tersebut telah menyatakan potensi penyebaran informasi data akuntansi secara elektronik dengan berbagai cara.

About these ads

About Agungrakhmat04

so easy to get me
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s